Home » » Keris Warisan Leluhur Tetap Berharga Tinggi

Keris Warisan Leluhur Tetap Berharga Tinggi

Posted by sugih makmur
Pertamini jakarta, Updated at: 16.17

Posted by sugih makmur on Selasa, 30 September 2014

Artikel Bisnis Desa Keris Aeng Tongtong



Siapa sangka kerjinan keris bisa menembus pasar internasional berkat ketekunan. Mereka bukan satu atau dua orang pengusaha tapi satu desa. Warga Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Setiap daerah punya ciri khas tersendiri dalam pembuatan keris begitu juga desa ini. Keris khas yang dikerjakan oleh sebagian warga desa menghasilkan 4 juta hingga 10 juta rupiah per- keris saja. Dari pemasarannya warga Desa Aeng Tongtong memasarkannya hingga ke luar pulau Madura seperti Surabaya, Blitar, Malang dll,bahkan hasil seninya sampai ke manca Negara seperti Malaysia, Singapur dll.

Berdasar data Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Sumenep, sedikitnya terdapat 554 perajin keris di Kota Sumekar. Mereka tersebar di tiga kecamatan, yakni Lenteng, Bluto, dan Saronggi. Desa Aeng menjadi sentranya keris terpopular. Kerajinan pembuatan keris di desa tersebut juga diketahui sebagai warisan dari leluhur. Sehingga tidak heran bila keris Desa Aeng Tontong sudah menembus pasar internasional.

Menurut Kepala Desa (Kades) Aeng Tongtong, Taufik Rahman, usaha daerahnya sebagai sentra kerajinan keris sudah ditekuni warga sejak tahun 1970-an. Saat ini terdapat sekitar 350 perajin keris di Desa Aeng Tongtong. Dalam sehari, mereka menghasilkan sekitar 300 keris yang jika satu buahnya 4 juta rupiah bisa mencapai nilai 400 juta. Jenisnya bervariasi. Ada keris pamor blarak sleret, pamor malate sato’or, dan ojan mas. Ada juga jenis keris nogo sosro, lawi saokel, dan bulu ayam. ’"Para perajin di Desa Aeng Tongtong juga ahli membuat keris jenis kulit semongko, brasuta, genggeng ranyut, dan junjung drajat," tutur Taufik kepada jppn.com (27/9).

Dia menjelaskan, harga per- keris buatan para perajin di Desa Aeng Tongtong bervariasi. Ada yang dijual mulai dari ratusan ribu rupiah. Ada pula yang mencapai ratusan juta rupiah tergantung jenisnya. "Harga bergantung jenis dan kualitas keris," jelasnya. Kerajinan keris di Desa Aeng Tongtong relatif maju. Meski begitu, bukan berarti tidak ada kendala. Mudahwi, 30, salah seorang perajin setempat, mengungkapkan bahwa kendala terbesar terkait dengan perizinan. "Keris masuk kategori senjata tajam sehingga perlu izin untuk memilikinya," katanya.

Maestro keris



Aeng Tongtong dalam bahasa Madura berasal dari kata "aeng" sementara "tong –tong" adalah bejana yang dibawa dengan cara dijinjing. Mengapa diberi nama demikian, alasannya karena letak geografis Desa Aeng Tongtong yang ada di lereng bukit dan berbatu-batu, menyebabkan warga harus membawa semacam gentong untuk mendapatkan air di mata air yang terletak di bagian barat Desa Aeng Tongtong. Di desa ini konon para raja di Kraton Sumenep mempercayakan penduduk untuk membuat keris. Maka secara tidak langsung seluruh warga di desa tersebut menyandang gelar Mpu (sebutan untuk pembuat keris).

Konon keahlian itu merupakan hasil warisan dari Pangeran Bukabu, beliau merupakan guru para raja yang ada di Sumenep. Keahlian itu pun terpelihara hingga sekarang sebagai tradisi warisan budaya. Murka yang kini berusia 70 tahun, suami Amsiyani (65), dia lah salah satu maestro keris yang dimiliki oleh Desa Aeng Tongtong yang masih hidup. Beberapa kali pertanyaan saya tidak ditangkap dengan baik oleh Pak Murka'. Larip bilang, pendengaran ayahnya sudah berkurang.

Sejak terjatuh di rumahnya sekira enam bulan lalu, kehidupan Murka' sebagai pembuat keris memang mulai berubah. Usianya yang telah tua, menyebabkan sakitnya tak lekas enyah. Itulah sebabnya bapak dua anak ini memerlukan bantuan anak-anak dan menantunya untuk berjalan atau ketika menerima tetamu di rumahnya. "Tapi belakangan beliau sudah mulai berkarya kembali, tentu saja untuk pekerjaan yang ringan. Misalnya, mendesain keris," tutur Larip mengenai kondisi sang ayah.

Murka telah mengenal keris sejak tujuh tahun. Memang desa Aeng Tongtong adalah desa keris bahkan dari jaman penjajahan Belanda. Banyak keris buatan desa ini diboyong ke Belanda sebagai oleh- oleh. Setelah akrab dengan keris, Murka' pun mulai mendalami keris. Saat usianya menginjak 20 tahun, ia telah berani mengerjakan perbaikan keris-keris yang rusak. Dari waktu ke waktu, Murka' yang memang berbakat juga pada bidang senirupa, mulai memberanikan diri membuat keris sendiri. Hasilnya, sungguh menakjubkan. Selain berkharisma, keris bikinan Murka' lebih indah karena disertai sentuhan seni rupa yang dimiliki oleh Murka.

Pesanan pun datang silih berganti. Selain melayani pembeli yang menginginkan kerisnya sebagai koleksi saja, Murka juga melayani pembuatan untuk oleh-oleh. Untuk yang hiasan atau oleh-oleh,  pamor dan ukirannya dibuat lebih sederhana. Pamor sendiri adalah ukiran yang terdapat dibatang keris biasanya mengkilat karena pamor itu berasal dari batu meteor yang jatuh dari langit. Untuk yang bertuah biasanya mendapat perlakuan khusus yaitu ritual lelaku si Mpu dalam membuat keris dengan berpuasa selama 3-7 hari tergantung tingkat kesulitannya. Setelah itu baru dibuat dan selama proses pembuatan si Mpu tidak boleh bicara sedikitpun tetapi harus konsentrasi dalam pembuatan keris bertuah tersebut.

Sampai saat ini jumlah penduduk yang membuat keris di Aeng Tongtong mencapai 90% dan sisanya adalah petani. Pesanan pun tidak pernah sepi setiap harinya, sehingga jika anda berkunjung ke sana pasti akan mendengar bunyi dentingan besi ditempa dan mesin gerinda berdering yang menghiasi sudut-sudut desa. Murka sendiri merupakan satu dari beberapa maestro yang tersisa di desa tersebut. Dia menjadi salah satu Mpu yang menghasilkan karya menakjubkan Di bawah generasinya, boleh dibilang masih banyak, tapi untuk mereka yang segenerasi dengan sang maestro sendiri bisa dihitung.

Generasi di bawah Murka', jika dikumpulkan semua, maka jumlah empu di Sumenep sungguh menakjubkan banyaknya. Ada 554 empu kerIS yang tersebar di tiga kecamatan, atau di sepuluh desa. Kecamatan Bluto tercatat 300 orang pengrajin keris yang tersebar di enam desa, Desa Palongan (150 orang), Aeng Baje (40 orang) Kandangan (35 orang) Gingging (25 orang), Sera Timur (30 orang), Karang Campaka (20 orang). Kecamatan Saronggi, ada 204 pengrajin yang tersebar di tiga desa, yakni Desa Aeng Tongtong (150 orang), Talang (29 orang), Juluk (25 orang), sementara di Kecamatan Lenteng ada 50 orang yang tersebar di tiga desa, yakni Desa Lenteng Barat (40 orang), Lembung Barat (7 orang), Lembung Timur (3 orang).

Dari 554 empu keris, mampu mengekspolrasi 450 bentuk dan nama keris dari zaman ke zaman. Sehingga keris buatan empu Sumenep terus di minati oleh kolektor keris dari berbagai belahan dunia. Di usianya yang telah senja, Murka' tetap bersemangat untuk berkarya. Terbukti, meski dalam kondisi sakit, kakek empat cucu ini sudah mulai mengawasi Larip (putranya) bekerja membuat keris. Jika ada yang berubah dari keris, kini peralatan untuk membuat keris lebih modern. Dulu, agar bisa diukir dan dibentuk pamornya, keris dibakar di paron (besi landasan tempa), tapi sekarang cukup dengan api las.

Sementara untuk menajamkan sisi keris, dulu empu sering menggunakan kikir. Tapi sekarang banyak yang pakai beji. Untuk kegiatan puasa atau tirakat juga semakin hilang. Masih ada beberepa yang melakukan satu kegiatan puasa untuk keris buatannya, tapi kini kian memudar. Tradisi membuat keris yang dimulai dari tirakat memang masih berlangsung di Aeng Tongtong, namun jumlahnya kian sedikit. Biasanya, untuk keris 'bertuah', empu itu berpuasa tiga hari sebelum mulai membuat keris pusaka.

sumber: nasional.kompas.com, jppn.com, aengtongtongsaronggi.blogspot.com

Share This Post :
 
Copyright © 2015 Pertamini jakarta. All Rights Reserved
pertaminijakarta